2 Perusahaan Farmasi Terancam Pidana 10 Tahun dan Denda Rp 1 Miliar masalah Cemaran EG dan DEG

2 Perusahaan Farmasi Terancam Pidana 10 Tahun dan Denda Rp 1 Miliar masalah Cemaran EG dan DEG

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Bareskrim Polri sudah lakukan pencarian pada dua perusahaan farmasi, yaitu PT Yarindo Farmatama dan PT Universal Pharmaceutical. Ke-2 perusahaan itu disebutkan menghasilkan obat sirup yang memiliki kandungan bahan beresiko, yaitu Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menerangkan, sesudah lakukan pengecekan pada saksi pakar dan pindana, ke-2 perusahaan ini diperkirakan lakukan tindak pidana. Karena, ke-2 nya menghasilkan dan mengedarkan produk farmasi yang tidak penuhi standard dan syarat keamanan manfaat, pendayagunaan, dan kualitas.

“Seperti dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 mengenai Kesehatan Pasal 196 dan Pasal 98 ayat 2 dan 3, sanksi pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda terbanyak Rp 1 miliar,” tutur Penny dalam konferensi pers virtual.

Disamping itu, ke-2 industri farmasi itu memperdagangkan barang yang tidak mempunyai atau mungkin tidak sesuai standard ketetapan ketentuan perundang-undangan. Hal tersebut, kata Penny, sama seperti yang termaktub dalam Pasal 62 ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 mengenai Pelindungan Customer dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda terbanyak Rp 2 miliar.

“Saya membahas yang dihubungkan dengan kausalitasnya jika kelak bisa dibuktikan ada hubunganya dengan kematian tentu saja bakal ada teror yang lain,” papar Penny.

Disamping itu, BPOM mengambil sertifikat CPOB untuk sarana produksi punya Yarindo Farmatama dan Universal Pharmaceutical Industry. Sertifikat CPOB ialah document bukti syah jika industri farmasi sudah penuhi syarat saat membuat satu tipe obat.

Penny menerangkan, pencabutan itu dilaksanakan sehabis BPOM bersama Bareskrim Polri lakukan operasi bersama semenjak Senin 24 Oktober 2022. “Dua industri farmasi itu diperhitungkan memakai pelarut propilen glikol yang memiliki kandungan EG dan DEG di atas tingkat batasan,” tutur Penny.

See also  Hujan Petir Diprediksikan Landa Jakarta pada Sabtu Siang dan Sore Ini

Menurut Penny, hal tersebut sebagai tanggapan cepat BPOM berkenaan dengan kasus gagal ginjal yang diperhitungkan terkait dengan cairan EG dan DEG. BPOM, katanya, telah lakukan rangkaian aktivitas dimulai dari pemantauan, sample, pengetesan, dan pengecekan untuk memperhitungkan beragam hal.

Penemuan pada dua perusahaan itu, Penny berkata, telah masuk ke ranah pengusutan. Disamping itu, BPOM mendapati bukti jika industri farmasi itu sudah lakukan peralihan bahan baku propilen glikol dan sumber pemasoknya tanpa lewat proses kwalifikasi penyuplai dan pengetesan bahan baku.

“Yang semestinya pengetesan itu dilaksanakan oleh beberapa produsen itu sesuai ketetapan standard yang ada yang telah ditegakkan bersama BPOM,” sebut Penny.

Dalam pada itu, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya belum memutuskan terdakwa dalam kasus ini. Dedi mengatakan tim gabungan pengatasan kasus gagal ginjal akut masih lakukan ambil contoh pasien, berbentuk obat sirup yang diminum, contoh darah dan contoh urine, dan rekam klinis dokter yang menjaga pasien.

Contoh itu diambil dari semua pasien di Indonesia. “Sedang proses penyidikan, di antara BPOM, Kemenkes, dan penyidik masih pelajari hasil contoh dari laboratorium di semua Indonesia yang ada pasien gagal ginjal,” kata Dedi.

Menurut Dedi, contoh pasien gagal ginjal akut yang dihimpun oleh tim gabungan akan dibawa ke Jakarta untuk dites di Labfor Polri untuk mencari pemicu gagal ginjal yang dirasakan oleh pasien.

“Jadi tiap daerah berbeda kasusnya, karena itu empat contoh itu dihimpun semua dibawa ke Jakarta untuk ditelaah. Kemudian dikaji dan dirapatkan dengan beberapa pakar, baru kelak dibikin satu ringkasan,” katanya.

 

Check Also

Kementerian PUPR Membangun jaringan Sistem Penyediaan Air Minum di Lombok, Nilai Proyek Rp 30,8 Miliar

Kementerian PUPR Membangun jaringan Sistem Penyediaan Air Minum di Lombok, Nilai Proyek Rp 30,8 Miliar …