Anies, Ahok, dan Cerita Pasukan Oranye yang Dipandang Malas

Anies, Ahok, dan Cerita Pasukan Oranye yang Dipandang Malas

Hujan barusan stop Rabu malam, aspal dan trotoar masih basah. Seorang pria dengan sepeda stop di muka toko tepi jalan. Seragam oranye berkelir hitam yang digunakannya kusam dan kotor.
Sapu lidi sampai serokan tercantel pada bagian belakang sepeda. Botol air minum disembunyikan pada bagian depannya. Tidak banyak yang sudah dilakukan pria itu, dia cuma menunduk sekalian mengutak-atik gawai.

“Ingin laporan dahulu di group. Tiap usai kerja harus laporan,” kata pria namanya Endang itu.

Endang ialah Petugas PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) atau yang sering dikatakan sebagai Pasukan Oranye karena warna seragamnya.

Jauh ke belakang, ide penerimaan PPSU pertama kalinya dicetuskan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Pada Mei 2015, dia mengeluarkan Ketentuan Gubernur No 169 Tahun 2015 mengenai penanganan prasarana dan sarana umum tingkat kelurahan, dalam rencana memaksimalkan servis ke warga.

Peraturan gubernur tersebut yang selanjutnya jadi dasar dalam penerimaan PPSU pada tingkat kelurahan. Adapun banyaknya, dihitung berdasar jumlah warga, luas daerah dan pemikiran tehnis sama sesuai keperluan. Sekitar 40-70 petugas per kelurahan.

Berdasarkan Peraturan gubernur DKI Nomor 7 Tahun 2017, beberapa pekerjaan mereka diantaranya pengurasan aliran, tali-tali dan mulut-mulut air yang tersumbat di jalan lingkungan, pembersihan tumpukan sampah liar dan ceceran sampah.

Pasukan Oranye bekerja dalam penanganan pohon roboh, pemotongan ranting pohon, pembabatan rumput dan semak liar dan beberapa pekerjaan yang lain.

Endang terhitung petugas di awal periode pembangunan PPSU 2015 lalu. Dia yang waktu itu masih bekerja sembarangan, langsung mendaftarkan saat tahu ada lowongan.

“Dahulu penerimaannya tidak ada mekanisme. Jika dahulu dari RT/RW yang ingin dipersilahkan. Banyak orang kan tidak mau karena geli, jijik, kita sudah niat kerja mah apa saja kita kerjain,” kata Endang.

See also  Dua Purnawirawan Turuti Tapak jejak Letjen Ganip Warsito Masuk ke PDIP

Dia menceritakan pada awal pembangunan PPSU, petugas bekerja tetap tanpa seragam dan sepatu. Disamping itu, tugas juga masih dilaksanakan tanpa pembagian jam kerja sehari-harinya.

Pada periode awalnya, semua petugas masuk kerja saat pagi hari, dan pulang di sore hari. Sekarang, 57 petugas PPSU di kelurahannya dipisah jadi dua shift dalam satu hari.

Dalam seminggu, petugas mendapatkan jatah libur satu hari.

“Dipisah dua shift, jam tujuh pagi sampai jam tiga sore, nach jam tiga sampai jam 11. Kerjanya dipisah per daerah,” katanya.

Dia menjelaskan semenjak awalnya bekerja pada 2015, petugas sudah mendapatkan upah sama dengan UMR Jakarta. Dalam perjalanannya, petugas mendapatkan asuransi.

“Ada BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, itu sekitaran 2 tahun dari 2015,” kata Endang.

Dengan upah dan asuransi kesehatan yang didapatkan, menurut dia sekarang beberapa orang yang berbaris menjadi PPSU. Menurut dia, tiap tahun ada penerimaan PPSU baru di kelurahan.

“Karena (orang mikir) ah kerja demikian doang, upahnya begitu sich nikmat. Dahulu ke mana saja. Dahulu gantian dibawa sulit tidak ingin. Orang saat ini jadi PPSU itu sulit, berbaris,” ucapnya.

Di zaman Ahok pimpin Ibu Kota, performa PPSU sering dibanggakan. Dia menjelaskan ada PPSU satu diantaranya sudah membuat banjir yang sering menerpa Jakarta cepat kering.
“Jakarta tempo hari cepat kering (banjirnya) karena jasa saudara semua,” kata Ahok pada Maret 2017.

Tetapi pada perjalanannya, performa PPSU mendapatkan kritikan. Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi pada Juli 2017 lalu menyebutkan performa PPSU semakin menurun.

“Tempo hari kebenaran saya melalui di wilayah Tanah Tinggi. Tetapi saya tidak saksikan kembali anggota PPSU-nya. Kalaulah ada, mereka itu ya hanya kongkow di mobil operasional. Tidak kerja,” kata Prasetyo saat itu.

See also  Berkunjung ke Solo, Anies Baswedan Berjumpa Habib Novel Alaydrus dan Bisa Tongkat Tanduk Rusa

Bahkan juga pada Oktober 2021 lalu, seperti diberitakan beberapa media, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Ida Mahmudah menyebutkan PPSU saat ini lebih kelihatan kerap kongkow daripada bekerja. Keadaan itu disebutkan kontras dengan saat Ahok masih pimpin Ibu Kota.

Tetapi Endang tidak sepakat dengan penilaian masalah performa PPSU yang disebutkan turun di zaman Anies jadi Gubernur DKI. Menurut dia, sekarang petugas cuma lebih mempunyai job desk yang semakin teratur.

“Saat ini pekerjaannya masing-masing, dahulu tidak ada. Got ya got, kali ya kali, jadi kerubutan getho,” katanya.

Berkaitan banjir, dia menyebutkan PPSU masih teratur turun untuk menolong penanganan. Seringkali petugas harus juga bekerja sampai tengah malam.

“Jika disebut bergadang ya harus bergadang, namanya pekerjaan,” katanya.

Tetapi Endang tidak menolak bila ada perintah dari pihak kelurahan yang minta petugas untuk ‘bersembunyi’ atau cari tempat sepi saat istirahat bekerja.

Hal tersebut, katanya, satu diantaranya untuk menghindar asumsi jika petugas bermalasan.

“Jika orang main-main dipotret, itu penyakit. Dari pimpinan memang ada perintah jika istirahat kita bersembunyi lah. Jika ada orang ngevideo, peka. Jika di sini nanti respon orang disangka main HP, walau sebenarnya laporan,” ucapnya.

Salah satunya petugas PPSU yang lain menjelaskan hal sama. Petugas yang tidak ingin namanya disebut itu menjelaskan sekarang tugas mereka lebih teratur dan tidak sembarangan.

Dia sebagai petugas yang telah tergabung semenjak 2015. Dia menampik bila PPSU disebutkan cuma santai dan ogah-ogahan.

“PPSU disangka kerjanya enak-enakan, walau sebenarnya tidak. Awal mula tuch lebih berat dibanding sekarang ini. Awalnya pertama itu kita bedah aliran, itu betul-betul penuh, sampahnya padat. Dahulu istilahnya sembarangan,” ucapnya.

Di salah satunya jalan daerah Jakarta Selatan, petugas itu sebetulnya tengah duduk bersama dua partnernya di pinggir jalan.

See also  Esok Anies Baswedan Gowes dari GBK ke Balai Kota untuk Hadiri Acara Perpisahan

Dari pernyataan petugas, disekitaran tempat mereka duduk itu, ada satu titik yang selalu jadi masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah. Beberapa petugas berjaga-jaga supaya tidak ada yang buang sampah di wilayah itu.

“Kemaren ada yang tertangkap 3 orang bapak-bapak, buang sampah asal-asalan dari wilayah lain,” kata petugas itu.

Tetapi petugas itu akui ada ketidaksamaan yang dirasanya sepanjang jadi PPSU di jaman Ahok dan jaman Anies.

Di jaman Ahok, menurut dia PPSU lebih mendapatkan perhatian dan dianakemaskan.

Salah satunya misalnya, dia menyentuh masalah pembayaran upah, bukan masalah nominal, tetapi masalah ketertinggalan.

“Dahulu upah on time, tanggal 1 harus turun kalau saat ini tanggal 5, 2, 3, 4 baru turun. Saya kan kontrak setiap tanggal berapakah harus bayar kontrak, jika terlambat 3 hari, empat hari kan ditanyakann yang punyai kontrak,” ucapnya.

“Jika dahulu, PPSU itu anak emasnya Ahok itu,” tambah ia.

Pasukan Oranye Bukan Mesin Pencitraan
Anies Baswedan mulai bicara masalah kritikan performa dan kehadiran petugas PPSU terutamanya Pasukan Oranye yang jarang-jarang kelihatan di Ibu Kota.

“Bukan kelihatan atau mungkin tidak. Anda semestinya ngomong begini, ‘Pak Anies Jakartanya kotor atau bersih?'” kata Anies.

Mantan Mendikbud ini memperjelas pasukan oranye bekerja sesuai dengan waktu dan lokasi yang diperlukan. Ia memperjelas pasukan oranye bukan mesin pencitraan.

“Jika kelihatan atau mungkin tidak itu kan keterpandangan, ini bukanlah mesin pencitraan, ini mesin yang bekerja bersihkan. Mereka bekerja di beberapa tempat, di saat-saat yang sesuai keperluan,” katanya.

Anies lalu mengkritik kepimpinan awalnya yang menurut dia pasukan oranye menyengaja diperlihatkan untuk sebuah pencitraan.

“Dahulu pernah demikian, terpasang di jam-jam yang kelihatan, jika kami tidak. Kami bekerja agar Jakarta bersih, Jakarta nyaman. Bukan untuk alat pencitraan ya,” papar Anies.

 

Check Also

Polda Metro Jaya Kembali Aktifkan Tilang Manual, Ini Pelanggaran yang Dibidik

Polda Metro Jaya Kembali Aktifkan Tilang Manual, Ini Pelanggaran yang Dibidik tuntunan Direktorat Lalu Lintasi …