Basuki Hadimuljono Yakinkan TKDN Proyek Kementerian PUPR Minimum 80 %

Basuki Hadimuljono Yakinkan TKDN Proyek Kementerian PUPR Minimum 80 %

Pemerintahan tidak kembali memberi toleran ke produk impor untuk dipakai dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kementerian PUPR tingkatkan pemakaian bahan bangunan ramah lingkungan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengutamakan pembangunan infrastruktur yang mandiri memakai produk dalam negeri. Ia menjelaskan, perintah presiden sekarang tidak lagi hanya memprioritaskan produksi dalam negeri, tapi larang impor.

“Saat ini perintahnya dilarang impor, apa lagi yang memakai APBN. Di APBN itu telah lebih dari Rp400 triliun yang dibelanjakan dengan TKDN yang tinggi. Di Kementerian PUPR sendiri dari rerata Rp120 triliun /tahun, 80-90 % dengan TKDN [tingkat elemen dalam negeri] dan itu saya menjaga benar,” kata Basuki.

Karena itu, ia mengharap semua komponen yang turut serta sama lebih memajukan industri konstruksi Tanah Air dengan nilai-nilai perjuangan dalam membuat Indonesia ini. Basuki mengharap barisan Kementerian PUPR pun tidak ada yang berani untuk bermain-main dengan instruksi itu. Ia bahkan juga memberikan ancaman akan tindak tegas bila ada korps-nya yang berani belanjakan anggaran PU sama barang non-TKDN.

Menyikapi hal tersebut, Vice Presiden Tatalogam Group Stephanus Koeswandi benar-benar menghargai cara pemerintahan, khususnya Kementerian PUPR yang tetap mempersempit ruangan gerak pemakaian barang impor dalam pembangunan infrastruktur terus-menerus di Tanah Air. Menurut dia, pemakaian produk dengan TKDN tinggi bisa menolong mengembalikan perekonomian bangsa yang pernah tersuruk karena pandemi.

“Dengan bertambahnya pemakaian beberapa produk dalam negeri, automatis industri Tanah Air ikut juga berkembang. Efeknya perbaikan perekonomian nasional dapat selekasnya diwujudkan,” jelasnya.

Karena itu, faksinya memiliki komitmen memberikan dukungan usaha lebih memajukan industri konstruksi dengan junjung tinggi nilai-nilai perjuangan membuat Indonesia. Tidak cukup dengan mendatangkan beberapa produk baja ringan yang telah 100 % bikinan Indonesia, tapi juga mengaplikasikan green industries yang ramah lingkungan.

See also  Ini Argumen Tiap 10 November Diperingati sebagai Hari Pahlawan

“Sekarang, semangat dalam memburu sasaran 2050 Zero Emmision yang sedang kami tambahkan. Sekarang ini, ada tiga hal yang menjadi konsentrasi perhatian Tatalogam Group dalam merealisasikan green industries ini,” jelasnya.

Ke-3 hal itu, yaitu pertama, menghitung dan kurangi karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan saat produksi. Ke-2 , lebih arif dalam pemakaian energi. Triknya dengan lakukan pergantian dari energi konservatif dengan energi yang lebih sustainable seperti tenaga surya atau angin. Ke-3 , dengan pengendalian sampah yang lebih bagus.

Ia menjelaskan, sampah baja sebetulnya 100 % dapat didaur ulangi. Tetapi, yang tetap harus jadi perhatian ialah transportasi pada proses perpindahan sampah baja itu yang memerlukan energi.

“Pengendalian sampah dari baja ini perlu kita tambahkan. Oleh karena itu tahun ini bersama Kemenperin kita telah membuat perancangan standard industri hijau untuk baja lapis aluminium seng dan baja lapis seng. Diharap jika sudah ada standarnya kelak kita punyai satu ekosistem yang lebih sustainable ke arah 2050 zero emission,” tegas Stephanus.

 

Check Also

Meresmikan Bendungan Tamblang Memiliki biaya Rp820 Miliar, Jokowi: Uangnya Banyak Sekali

Meresmikan Bendungan Tamblang Memiliki biaya Rp820 Miliar, Jokowi: Uangnya Banyak Sekali Presiden Joko Widodo atau …