Bom Bunuh Diri Bandung, Pemerhati Ungkapkan Argumen Residivis Kasus Terorisme Kembali Kerjakan Intimidasi

Bom Bunuh Diri Bandung, Pemerhati Ungkapkan Argumen Residivis Kasus Terorisme Kembali Kerjakan Intimidasi

Pemerhati Terorisme Ardi Putra Prasetya menerangkan argumen residivis kasus terorisme kembali lakukan intimidasi sesudah jalani hukuman. Ini dikatakannya susul pelaku gempuran bom bunuh diri di Polsek Astana Baru Bandung, yang dijumpai sebagai seorang residivis kasus terorisme.

Ia sampaikan bekas pelaku kejahatan baiknya telah berbeda dan alami dampak kapok saat sudah usai jalani periode pidananya. Tetapi, kata Ardi, ini tidak berlaku koheren dengan kejahatan ideologis namanya terorisme.

“Bahkan juga, banyak pelaku intimidasi memandang mekanisme peradilan pidana, terhitung penghukuman di Lembaga pemasyarakatan ialah sisi dari perjuangan suci-nya,” terang Ardi diambil dari tayangan persnya,

Di lain sisi, ia menyebutkan peraturan yang atur pemidanaan pelaku intimidasi yaitu, UU Nomor lima tahun 2018 cuma atur tindak pidana terorisme berdasar tindakannya, bukan ideologi pro kekerasannya.

“Maka tidaklah aneh saat bekas terpidana terorisme kembali lagi ke masayarakat, masih bermuatan ideologis berlebihanisme berbasiskan kekerasan,” katanya.

Ardi menjelaskan dalam terorisme, ada teori desistensi yang menerangkan multi-faktor, mengenai kekuatan seorang untuk stop jadi pelaku intimidasi. Factor itu terdiri dari tiga saluran. Saluran pertama berisi parameter keperluan dasar (needs), cerita dan jaringannya (networks).

Saluran ke-2 , ialah saluran pokok yang terdiri dari keluarga, mawas diri, kedewasaan, kegiatan ekonomi dan dampak kapok. Sementara saluran ke-3 terdiri dari Keyakinan pada hukum, integratif, rekanan sosial dan kesempatan-peluang keadaanonal.

“Saat beberapa faktor itu belum terjamah secara baik, karena itu kemungkinan besar pelaku terorisme akan lakukan kembali tindakan intimidasi. Lambat atau cepat, cuma masalah waktu dan kejadian-katalis yang menghidupkan semangat tindakan mengancamnya,” papar Ardi.

See also  Menjelang Natal dan Tahun Baru, PBNU Minta Warga Tambahkan Rasa Toleran

Factor Cerita Ideologis Dipunyai Pelaku Gempuran Bom Polsek Astana Baru

Ia memandang pelaku gempuran bom Polsek Astana Baru belum juga usai dengan beberapa faktor itu. Menurut Ardi, factor cerita ideologis masih dipunyai oleh pelaku.

“Bila kita kulik lebih jauh, factor lain tentu terkait kuat dengan keberadaan ia dalam jaringan, keperluan dasar yang belum tercukupi bahkan juga ketidakberhasilan dalam berintegrasi kembali dengan warga,” ujarnya.

Walau demikian, Ardi menjelaskan kejadian itu jadi titik balik beberapa penopang kebutuhan agar semakin aware pada tindakan terorisme. Ia juga minta aparatur penegak hukum agar perkuat keamanan wilayah/kantor.

“Karena kejadian seperti ini menjadi detonasi berlangsungnya tindakan sama di daerah-daerah lain,” sebut ia.

Disamping itu, Ardi mengingati stakeholder di bagian intervensi pelaku intimidasi, agar semakin tajam dalam mengenali persoalan ideologis. Selanjutnya, program intervensi yang diberi harus pas pada keperluan beberapa target program.

“Paling akhir, untuk warga umum, kejadian bom Astana Baru memberikan jika terorisme ialah peristiwa riil di negara kita,” katanya.

“Terorisme bukan konspirasi dan bikinan dari aparatur, tetapi sebagai persoalan sosial yang ada selalu dalam tiap zaman dan tiap periode,” ikat Ardi.

Tersangka Pelaku Bom Bunuh Diri Polsek Astana Baru Tinggal di Kamar kos Sukoharjo

Seorang pria berinisial AS (34) diperhitungkan sebagai pelaku bom bunuh diri di Polsek Astana Baru, Bandung, Jawa Barat. AS setiap hari profesinya sebagai tukang parkir dan tinggal di kamar kos Kabupaten Sukoharjo, Jawa tengah.

Pengamatan Liputan6.com, kamar kos yang dikontrak AS dan keluarganya itu beralamat di Blontan RT 07 RW 02, Dusun Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Kamar itu terlihat terkunci rapat. Dan jendela kaca kelihatan terbuka sedikit.

See also  Tahapan Pertama, 8.341 Rumah Korban Gempa Cianjur Selekasnya Diperbarui

Keluarga itu tempati kamar nomor dua. Kamar kos yang dipunyai masyarakat di tempat namanya Surati itu cuma mempunyai tiga kamar. Bangunan kamar kos dengan dinding bercat hijau muda itu terlihat simpel.

Berdasar info dari pemilik kamar kos, Surati jika AS dan istrinya sudah sewa salah satunya kamar kamar kos itu semenjak bulan September 2021 lalu. Hal tersebut ditunjukkan dengan catatan di buku kepunyaannya jika AS sewa dengan menyertakan fotocopy identitas KTP si istri.

“(AS) dan ibu tinggal di sini bersama satu anaknya. Ini (sewa mulai) September 2021. Telah satu tahun lebih,” katanya saat dijumpai di tempat tinggalnya,

Menurutnya, sekarang ini yang tinggal di kamar kamar kos sebagai anak dan istrinya. Dan As berdasar info dari si istri sedang bekerja di luar kota.

Check Also

Meresmikan Bendungan Tamblang Memiliki biaya Rp820 Miliar, Jokowi: Uangnya Banyak Sekali

Meresmikan Bendungan Tamblang Memiliki biaya Rp820 Miliar, Jokowi: Uangnya Banyak Sekali Presiden Joko Widodo atau …