Kasus Tumpahan Minyak Montara, Luhut: Perusahaan Asal Thailand Sepakat Bayar Ganti Rugi Rp 2 Triliun

Kasus Tumpahan Minyak Montara, Luhut: Perusahaan Asal Thailand Sepakat Bayar Ganti Rugi Rp 2 Triliun

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memaparkan kabar terkini kasus tumpahan minyak Montara di Laut Timor, Nusa Tenggara Timur. Sesudah sekian tahun tidak ingin bayar ganti kerugian, sekarang ini PTT Exploration and Production (PTTEP) sepakat akan memberi pembayaran sebesar 192 juta dolar Australia atau US$ 129 juta sama dengan Rp 2 triliun.

“Saya meminta semua dilaksanakan terarah. Sekitar US$ 129 juta ini kelak dapat diatur secara benar dan bisa diserahkan ke nelayan-nelayan itu langsung ditransfer ke rekeningnya,” tutur Luhut dalam konferensi jurnalis di kantor Kemenko Maritim dan Investasi, Jakarta.

NIlai Rp 2 triliun ini sebagai angka di luar ganti kerugian pada kerusakan lingkungan. Uang itu sebagai ganti kerugian untuk nelayan dan petani rumput laut yang terimbas tumpahan minyak.

Ketua Team Task Force Montara Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan tiap nelayan akan mendapatkan sekitaran 6 – 7 ribu dolar Australia. “Ini kita upayakan akan naik kembali,” katanya.

Lebih jauh, Luhut memperjelas jika penuntasan kasus Montara terus akan diusahakan, walau pemerintah Indonesia ganti kepimpinan. Dia memperjelas rakyat Indonesia harus memperoleh ganti kerugian yang pantas karena kasus itu.

“Kalaulah kelak ada penggantian pemerintah akan tiba, ya tidak apapun, kita terusin. Karena ini membuat perlindungan lingkungan dan membuat perlindungan rakyat kita. Itu tugas pemerintah, siapa saja pemerintahnya . Maka tidak bisa bermain-main,” sebut Luhut.

Luhut akui kecewa karena kasus tumpahan minyak itu tidak juga usai sampai sekarang ini walau sebenarnya sudah seharusnya selesai usai lama. “Karena semestinya usai saat sebelum jaman Presiden Jokowi,” katanya.

See also  TB Hasanuddin Sebutkan Presiden Sampaikan KSAL Yudo Margono Calon Panglima TNI

Kasus berawal pada 2009

Kasus ini berawal pada 21 Agustus 2009, saat kilang minyak di atas lapangan Montara punya perusahaan asal Thailand, PTT Exploration and Production (PTTEP), meletus di Block Atlas Barat Laut Timor, NTT.

Tumpahan minyak ini mengakibatkan tercemarnya 90.000 km persegi Laut Timor yang mengambil sumber dari lapangan Montara. Minimal 85 % curahan minyak terikut oleh angin dan gelombang laut ke perairan Indonesia.

Curahan minyak Montara itu membuat kerusakan yang paling berarti di lingkungan laut dan pantai di 13 kabupaten yang berada di NTT. Mengakibatkan, beberapa nelayan dan petani rumput laut kehilangan kerjanya.

Karena tumpahan minyak Montara ini juga, sekitar 15 ribu petani rumput laut dan nelayan NTT melontarkan tuntutan class action ke PTTEP di pengadilan Australia. Mereka sudah mendapat kemenangannya pada keputusan 19 Maret 2021 dan keputusan ke-2 25 Oktober 2021.

 

Check Also

5 Kesaksian Terang-terangan Bharada E di Sidang Kasus Pembunuhan Brigadir Yosua

5 Kesaksian Terang-terangan Bharada E di Sidang Kasus Pembunuhan Brigadir Yosua Richard Eliezer Pudihang Lumiu …